Tampilkan postingan dengan label rodho-rodho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rodho-rodho. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Januari 2011

Kisah Fina: Asa Seorang Penderita Asperger

Hasil tes menunjukkan bahwa ia individu yang cerdas...tapi kenapa ia begitu mudah diperdaya oleh orang? Katanya ia begitu trauma dengan pemerkosaan dan penyekapan yang dialaminya...dan SEWAJARNYA ia merasa begitu...tapi saat kutemu di rumahnya, ia sedang jongkok di depan TV, tertawa dan terkekeh-kekeh menonton film kartun! Mungkin ini bukan kasus pemerkosaan...mungkin Fina melakukannya atas dasar suka sama suka, mengaku disekap padahal dengan rela hati menginap selama 3 bulan dengan ”kekasih” yang kini dituduhkan melakukan penyekapan oleh orangtuanya. Ya....pasti begitu!Tapii....mata dan ekspresinya saat bertemu tersangka sulit dimanipulasi, ia begitu ketakutan...wajah yang tadinya planga-plongo itu mendadak didera horor.

Fiiuuhh....aku menghela nafas panjang, menutup mata lelahku sejenak dari tumpukan kertas dan buku yang berserakan di mejaku. Sudah hampir satu minggu aku dibuat bingung oleh kasus ini, fakta-fakta yang berbenturan, informasi yang tak lengkap... sampai hasil observasi dengan mata kepalaku sendiri belum mampu memberiku keyakinan mengembangkan hipotesa akan apa yang terjadi.

Klienku Fina seorang gadis remaja berusia 19 tahun, baru mengenal Jo lewat SMS tak dikenal yang diterima HP-nya. Setelah beberapa kali berkomunikasi melalui SMS, Jo mengajaknya copy darat. Fina menanggapi ajakan Jo dan mereka bertemu di stasiun kereta pada sore hari. Fina tak curiga saat Jo mengajaknya berjalan-jalan ke daerah yang lebih sepi, mereka berbincang sampai pukul 8 malam. Fina juga tak curiga ketika Jo meminta ijin untuk pergi ke toilet, ia setia menunggu, tak bergerak kemanapun hingga Jo kembali 1 jam kemudian dengan membawa 2 orang pria dewasa lain. Apa yang terjadi selanjutnya selalu membuatku miris membayangkannya....Fina diperkosa bergantian oleh Jo dan 2 pria lain. Tak sampai disitu saja, mata Fina kemudian ditutup dan tangannya diikat, ia dimasukkan ke mobil dan dibawa pergi. Ketika matanya dibuka, ia telah berada di sebuah rumah kosong dan disekap selama kurang lebih 3 bulan. Selama itu pula Fina kerap diperkosa dan dianiaya oleh ketiga pria tersebut.

Singkat cerita, Fina kemudian ”dipulangkan” oleh para penganiayanya. Di pagi hari sekitar pukul 10.00, pembantu Fina yang hendak membersihkan kamarnya menemukannya sedang bersembunyi di bawah tempat tidur dalam keadaan ketakutan, tubuh dan pakaiannya kotor, rambutnya tampak lengket dan acak-acakkan seperti lama tidak dicuci. Setelah pulang ke rumah, Fina terlihat sering bengong, ia takut tidur sendiri di kamarnya dan harus tidur dengan orangtuanya.Selain itu Fina yang sebelumnya gandrung akan HP, juga takut mengangkat telepon dan pergi keluar rumah. Di malam hari ia sering mengalami mimpi buruk dikejar-kejar monster atau orang jahat yang ingin membunuhnya.

Ayah Fina mengatakan bahwa Fina memiliki kekurangan sedari kecil, ia baru bisa berjalan dan berbicara pada usia 3 tahun, namun setelah itu ia berkembang seperti anak-anak sebayanya. Fina tidak pernah tinggal kelas, walaupun ia jarang belajar, ia dapat mengikuti pelajaran dengan cukup baik namun ia kurang bisa bergaul dengan teman-teman sebayanya dan hanya bisa bergaul dengan anak-anak balita. Selain itu perilakunya tampak seperti anak-anak, ia mudah terbawa rayuan orang dan tidak bisa menyaring perkataan orang. Hal ini membuat orangtuanya bersikap protektif dan menyekolahkan Fina di Pesantren.

Ada yang janggal dengan dirinya, ia tak seperti gadis remaja kebanyakan, cara bicaranya seperti anak kecil dan gerak-gerik wajah dan tubuhnya kikuk dan kaku. Tatapan matanya ”aneh” dan ia seringkali tidak bisa memberikan ekspresi emosi yang tepat. Selama berbincang ia jarang melakukan kontak mata dan sibuk bermain dengan kuku-kuku jari tangannya. Eits....sering memainkan kuku-kuku jari tangan...cenderung terpaku dan asyik pada dunianya...jangan-jangan ada kecenderungan autistik pada Fina. Ia masih mampu membangun hubungan dan berkomunikasi dengan dunia luar tapi sangat terbatas...dalam berkomunikasi ia ia hanya menangkap yang harafiah. Ekspresi, intonasi dan gestur yang mewarnai percakapan tak mampu diartikannya...

Pencarianku pada kejanggalan Fina berujung pada penemuan akan gangguan yang baru pertama kali kudengar: Asperger Syndrome....sebuah gangguan yang termasuk spektrum autisme. Individu dengan sindrom ini memiliki gangguan dalam penggunaan perilaku non-verbal ganda (kontak mata, ekspresi wajah, postur tubuh dan gestur) dalam interaksi sosial dan komunikasi. Mereka kurang mampu mengembangkan hubungan dengan teman sebaya. Hal ini mungkin tidak tampil dalam bentuk apatisme sosial. Individu dengan asperger biasanya ingin menjalin hubungan namun tidak memiliki keterampilan sosial yang diperlukan. Pendekatan yang eksentrik dan kelakukan yang canggung membuat mereka sulit diterima oleh lingkungan.

Seperti juga dalam gangguan autistik, pola berulang dari perilaku, minat dan aktivitas juga hadir. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan berkembangnya keterpakuan terhadap sebuah minat yang spesifik dimana individu memiliki fakta dan informasi yang lengkap mengenai topik ini. Aktivitas lain mungkin terganggu karena mereka begitu menggandrungi aktivitas yang berhubungan dengan minat tersebut. Fina memiliki minat yang besar terhadap HP. Ia mengenal jenis-jenis berbagai-bagai HP beserta keunggulan dan fitur-fiturnya. Pembicaraan mengenai HP juga menjadi topik yang membuatnya bersemangat dan dapat bertutur panjang tanpa melihat konteks pembicaraan. Ia juga mampu belajar hal baru seperti membuat koneksi telepon melalui internet dan komputer yang tidak mampu dilakukan oleh kakak, adik dan orangtuanya. Tidak hanya itu, preokupasi terhadap HP juga membuatnya ”melanggar” larangan-larangan dari orangtuanya untuk tidak menggunakan HP dan telepon. Studi tentang individu dengan sindrom asperger mengungkapkan bahwa kriminalitas yang dilakukan oleh mereka biasanya menyangkut preokupasi mereka terhadap area spesifik dan dilakukan sekedar untuk memenuhi preokupasi mereka.

Sebagai seorang individu dengan Sindrom Asperger, Fina mudah menjadi korban kejahatan karena ia tidak mampu membaca tanda-tanda non-verbal dan sosial dari orang-orang yang bermaksud jahat padanya. Ketika Jo minta ijin ke WC dan menyuruhnya menunggu, Fina dengan patuh menunggu walau Jo baru kembali 1 jam kemudian. Ia sama sekali tidak curiga atau merasa ada kejanggalan dengan kepergian Jo ke ”WC” selama 1 jam.

Usia Fina yang berada pada masa remaja juga menambah kerentanan kepadanya Remaja-remaja belasan tahun dengan Sindrom Asperger memiliki kematangan sosial ataupun emosional yang lebih lambat bila dibandingkan dengan anak-anak lain dikelasnya. Ketika hubungan-hubungan asmara terjadi, penting bagi remaja untuk mempelajari cara ”membaca” tanda-tanda orang lain. Aspek lainnya adalah ia mungkin tidak menyadari isyarat bila tujuan seseorang tidak untuk jatuh hati dan beramah-tamah. Individu dengan Sindrom Asperger sangat mudah menjadi korban serangan seksual. Hal ini pula yang menimpa Fina Sebagai remaja putri, ia ingin diterima oleh teman-temannya namun keterbatasan kemampuan membuatnya menjadi seorang remaja yang terkucil. Tekanan untuk memperoleh teman atau pacar membuatnya membuka diri terhadap tawaran-tawaran perkenalan dari orang asing. Ketidakmampuan untuk membaca tanda-tanda sosial membuat Fina tidak menyadari bahwa Jo ingin memanfaatkannya dan hal ini yang membuat individu dengan Asperger rentan mengalami penganiayaan seksual.


Senin, 15 Juni 2009

Penyakit Gila Karena Cinta

Pernahkah Anda mencintai seseorang sampai mau mati rasanya?Dada berdebar-debar tak terkendali. kalau sudah tidur susah bangun, kalau sudah bangun susah tidur, mau apa-apa rasanya tak bergairah?
Cinta memang sering bikin orang mabuk kepayang bahkan menggila…sering kudengar cerita cinta yang bikin orang hilang akal: menempuh perjalanan bolak-balik Jakarta-Bandung hanya untuk bilang "aku kangen kamu!", 103 sms dan 4,5 jam percakapan dengan inti yang sama:"aku kangen kamu!" tak mengurangi rindu sedikit juga! Aku hanya bisa berkomentar sambil geleng-geleng kepala:"Gila loe!" Seorang teman lain bercerita dengan bangga bahwa ia rela berlatih gitar dari nol sampai jari-jarinya melepuh demi gape membawakan lagu "Sempurna" hanya dalam waktu 1 minggu. Demi apa?hanya demi mengesankan seorang gadis di acara pensi sekolah! Sekali lagi aku hanya bisa berkomentar sambil geleng-geleng:"benar-benar sinting loe!"

Namun reaksi dan komentarku sungguh berbeda ketika mendengar cerita cinta klienku, sebut saja namanya Roy! Cinta benar-benar membuatnya gila! Ria, pacar pertama Roy diusianya yang ke 26 membuatnya tak menentu, gelisah, tak bisa tidur, tak bergairah beraktivitas bahkan hanya untuk bangun dari ranjang dan mandi. Kegilaan yang wajar apabila hanya sampai disitu, yang bikin miris Roy merasa tertekan dan depresi setiap berpacaran dengan Ria, berat badannya menurun, sering ia merasa begitu gelisah dan tidak bisa duduk diam, ia hanya berjalan mondar-mandir tak bertujuan dan ia terus merasa dorongan untuk memutuskan hubungan. Seringkali ia tidak dapat menahan dorongan ini dan akhirnya memutuskan hubungan dengan Ria. Setelah kata putus terucap, ketegangannya merada, ia bisa beraktivitas dengan normal, perasaannya tenang dan lega. Namun tak sampai seminggu, kerinduan timbul di hati Roy, akunya ia sangat menyayangi Ria, ia tak tahan membayangkan Ria berpacaran bahkan menikah dengan pria lain. Akhirnya Roy menghubungi Ria dan mengajaknya kembali berhubungan dan ia pun kembali menderita depresi. Aneh…kalau sepasang kekasih biasanya merana karena cintanya tak dapat restu dari orangtua, Roy merana karena cintanya pada Ria seakan ditentang oleh sebagian dari diri Roy. Benci tapi rindu, sayang tapi tertekan! Akibatnya hubungan mereka tak jauh-jauh dari lagu BBB: "putus-sambung….putus-sambung….putus-sambung!"


Konsultasi dengan psikiater dan 2 orang psikolog Roy lakukan, terapi obat, psikoterapi sampai shock therapy (ECT) ia jalani ... Namun semua tetap tak banyak membantu, kelegaan penuh baru diperolehnya ketika ia tak lagi berstatus "pacar". Berada pada status "single" pun tak membuat Roy sepenuhnya tenang, ia tak habis mengutuki diri mengapa senantisasa diserang depresi ketika berpacaran, air matanya meleleh ketika diminta merelakan Ria. Statusnya benar-benar "it's complicated!"…rumit, serba salah, kompleks dan tak mudah diurai.

Selidik punya selidik gangguan Roy yang kompleks tak hanya didasari oleh rasa cintanya pada Ria. Sebelum bertemu Ria, Roy sudah punya masalah depresi ringan. Roy dibesarkan dengan pola asuh yang ambivalen dan conflicting, di satu sisi ia sangat dimanja, dilayani dan dipenuhi kebutuhan materialnya, namun di sisi lain, orangtuanya mengekang dan membatasi “ruang geraknya” dalam mengambil keputusan dan mandiri. Hal ini membuat Roy tumbuh dengan motif-motif yang berkonflik satu sama lain. Di satu sisi ia memiliki kebutuhan untuk bergantung namun juga keinginan utuk mandiri dan menentukan langkah sendiri. Kebergantungan yang disertai dengan keterkekangan kemudian menimbulkan kemarahan dan kebencian yang harus direpresi agar ia dapat bertahan hidup dan sehingga ia tampil sebagai anak yang penurut dan “tidak neko-neko”.

Pola ini berlanjut sampai Roy dewasa, karena orangtuanya senantiasa mengarahkan namun tidak pernah memberikan tanggung jawab yang jelas. Ia tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki keinginan sendiri, bergantung pada orangtua dan tidak dewasa dalam mengolah impuls-impulsnya. Ketika Mama Roy terkena depresi, ia kehilangan sosok yang memberikan struktur baginya, yang biasanya menentukan arahnya. Papa Roy yang mulai menuntutnya untuk berperan sebagai orang dewasa menimbulkan frustasi bagi Roy. Usahanya untuk menghibur Mama tidak berhasil, begitu pula usahanya untuk bertanggung jawab terhadap toko yang telah diserahkan padanya. Hal ini membuatnya terbeban dan tidak berguna. Hal ini menimbulkan kecemasan di dalam diri Roy dan menjadi awal perkembangan gangguan. Sedikit saja, ia terbeban oleh tanggung jawab atau tuntutan sosial, gejala depresi ringannya kambuh.

Hubungan dengan Ria menjadi pemicu timbulnya depresi berat yang dialaminya kini. Tuntutan ego untuk memenuhi peran sebagai pria dewasa yang berinisiatif, bertanggung jawab dan nurturing tidak dapat dipenuhi karena pada dasarnya ia adalah pribadi yang dependen dan tidak dewasa. Menurut teori psikoanalisa, depresi timbul karena adanya kemarahan yang diarahkan ke dalam diri sendiri (anger-in). Demikian pula dengan Roy, kemarahannya pada diri sendiri karna tak mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri akhirnya menimbulkan gangguan depresi.

Banyak faktor yang dapat berkontribusi menimbulkan depresi. Depresi sesungguhnya merupakan salah satu penyakit gila dengan prevalensi paling tinggi, sekitar 10-25% dari seluruh populasi dan dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Bahkan bintang terkenal seperti Kirsten Dunst pun pernah menderita depresi! Apabila Anda merasakan simptom-simptom ini: sering gelisah tak menentu, kehilangan gairah melakukan kegiatan/hobi yang disenangi, makan/tidur terganggu…segeralah berkonsultasi pada psikolog atau psikiater Anda!

Sabtu, 02 Mei 2009

Menikahi Seorang Psycho!

Saya merasa ditusuk dari belakang oleh istri saya sendiri…istri yang selama ini saya lindungi dan tutupi aibnya!” kata seorang suami kepadaku dengan mata berkaca-kaca dan suara yang tersendat. Setelah 3,5 tahun berada dalam pernikahan yang melelahkan dan membuat frustasi, ia merasa tak tahan lagi. Makian dan pukulan dapat dipikulnya, rasa malu dan cemas dapat ditoleransinya TAPI hati dan harapannya hancur saat sang istri melaporkannya ke polisi dengan tuduhan melakukan kekerasan. “Waktu itu saya hanya ingin menenangkannya dan menahan pukulannya! Saya sama sekali tidak bermaksud memukulnya, Mbak tau kan berapa kuatnya dia kalau sedang tak sadar!” Sebagai seorang pria sejati , ia tak bisa mundur dari sumpah yang diambilnya ketika ia memutuskan untuk menikahi seorang gadis yang tak ia kenal sebelumnya. Hanya oleh rujukan keluarga dan iman pada keyakinan agamanya, ia melangkah pada sebuah kisah horror berjudul:”Menikahi Seorang Psycho!”

Mata berkaca yang sama kulihat pada Alicia Nash yang dimainkan begitu indah oleh Jennifer Connely dalam film The Beautyful Mind. Istri dari seorang ahli matematika jenius yang menderita skizofrenia dan hampir membunuh anak mereka. Hati Alicia hancur saat ia tahu bahwa suami tersayangnya nampak tak bisa menemukan jalannya kembali ke dunia nyata. Tersesat dalam delusi dan halusinasinya, John Nash yakin bahwa ia memiliki seorang sahabat yang tak pernah ada dan sebuah kehidupan rahasia yang tak pernah nyata.
Alicia tak hanya harus berhadapan dengan dengan menurun bahkan hilangnya fungsi sosial sang suami: tak dapat mempertahankan pekerjaan ataupun relasi sosial yang bermakna, berhadapan dengan stress sehari-hari dari perilaku-perilaku aneh bahkan terkadang membahayakan dari sang suami dan yang paling menyakitkan, berhadapan dengan semua stigma dan rasa malu menikahi seorang sakit jiwa dan yang paling menyakitkan adalah berhadapan dengan harapan yang semakin menipis bahwa hidup akan kembali normal.

Entah mengapa, kekurangan atau penyimpangan psikologis dapat jauh lebih membebani bagi pasangan daripada sakit fisik. Pernahkah Anda menyadari bahwa ketika Anda mengikat janji dihadapan Tuhan dan berkata:”Saya akan menemanimu dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit…” maka kata SAKIT tersebut meliputi sakit fisik dan juga SAKIT JIWA???

Kembali pada kisah pertama perihal klien saya…tak lama, sang istri mulai mengeluh dan neracau bahwa suaminya mau kawin lagi. Tentu saja hal ini membuat simptom penyakitnya makin kambuh. Ketika saya mengkonfrontasi sang suami, ia tak menyangkal. Ia berkata dengan putus asa:” Saya gak tau lagi mesti gimana mbak…sehari-hari saya harus pergi kerja untuk cari biaya pengobatan dan perawatan istri, lalu siapa yang akan menjaga dia saat kita pulang dari rumah sakit nanti? Saya butuh orang yang setia dan cukup paham, pembantu atau suster tak mungkin tahan merawatnya, dari situ saya punya ide untuk mengambil istri kedua!"

Saat itu saya tak bisa berkata apa-apa…itu pertama kalinya dalam hidup saya, saya hampir setuju pada ide poligami!

Normal VS Abnormal

“Jujur yah Rin….gue gila yah?”, tanyanya mengakhiri cerita panjang lebar yang tak dapat diungkap melalui telepon. Rupanya aku sengaja diajak bertemu minum kopi untuk dimintai opini professional: menilai kadar kewarasan! Kusadari sejak memilih jurusan psikologi, pertanyaan seperti ini bakal banyak menghampiriku. Banyak orang tak yakin bahwa dirinya “normal” dan ini bisa sangat meresahkan! Di dunia normatif ini, orang berebut tempat di kolom wajar alias ‘seperti kebanyakan’. Tak banyak yang mau mentolerir hal-hal yang melenceng dari normalitas, padahal abnormal tak selalu salah dan tak selalu jelek. Normal pun tak selalu benar dan baik, ia hanya… lebih mudah diterima!

Tak mudah memang menarik garis tegas antara perilaku normal dan abnormal. Sederhana saja mungkin kalau kita hanya menilai dari penyebaran dan distribusi di kurve normal, kalau anda termasuk kolom tengah alias rata-rata maka anda tergolong normal, kalau anda berada di pinggir kurve, maka Anda tergolong abnormal. Di jaman modern dan digital ini, sepertinya hampir semua orang punya HP, lebih dari satu bahkan! Jadi kalau hare gene Anda gak punya HP…(silakan simpulkan sendiri!). Kalau hanya kuantitas yang dijadikan patokan, maka para atlet dengan kemampuan super seperti Michael Phelp termasuk makhluk abnormal.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah apakah perilaku tersebut melanggar norma budaya setempat atau tidak. Mengayau alias menebas kepala, dianggap lazim dan justru memperoleh respek di Suku Dayak, tapi jangan coba-coba membawa kebiasaan tersebut ke Jakarta atau Anda akan berakhir satu sel dengan Ryan sang penjagal dari Jombang!

Menariknya, norma juga sangat mungkin mengalami pergeseran! Dulu sebelum flower generation, rata-rata orang yang belum menikah masih perawan, sekarang, paling tidak di Amerika remaja perawan sudah jadi spesies langka. Begitu pula dengan homoseksualitas yang tak lagi masuk dalam daftar perilaku menyimpang. Di Negara kita tercinta, perilaku nrimo adalah perilaku yang normal: wajar orang nrimo suap, nrimo komisi dibawah tangan atau nrimo jabatan karena uang! People change, society change, abnormality change!
Dengan semua hal ini, rasanya kita perlu satu kriteria lagi untuk yakin mengetok palu apakah sebuah perilaku normal atau abnormal. Para ahli sepakat bilang bahwa kriteria terakhir adalah apakah perilaku mengganggu individu dan lingkungannya. Kalau Anda takut berlebihan (phobia) sama karet gelang atau balon…mungkin hal itu termasuk abnormal karena tak rata-rata orang gak takut sama karet/balon. Tetapi selama hal tersebut tak mengganggu aktivitas, pergaulan dan pekerjaan Anda sehari-hari dan tak mengganggu lingkungan sekitar Anda, maka ketakutan Anda mungkin bukan sesuatu yang terlampau abnormal!

Sebaliknya perilaku yang “tampak” normal seperti:”senang main facebook (FB)” bisa jadi perilaku abnormal. Di pagi hari begitu bangun tidur, Anda langsung menghampiri PC yang dibiarkan menyala semalaman, update status, cek message, ikut kuiz dan gosok gigi. Di perjalanan ke kantor, di setiap persimpangan lampu merah atau ketika kendaraan Anda tersendat, Anda langsung meraih BB dan cek halaman FB, dalam hati Anda beralasan:”Kalau gak gitu jadi ngantuk sih!” Sampai di kantor anda menyapa teman-teman kantor Anda,…lewat FB! Sembari mengerjakan proposal, Anda meladeni berbagai message dan undangan YM. Di ruang rapat, karena ada Bos Anda jadi sungkan cek-cek FB lewat BB, tapi di sela-sela pembicaraan orang, pikiran Anda melayang memikirkan: “wah di FB statusnya Fanny berubah dari in relationship jadi single…apa dia putus yah?” waktu berlalu dan FB setia menemani Anda, saat kerja, saat rileks, saat bersama pacar, saat kongkow dengan teman…tanpanya Anda resah dan jadi gelisah…well, welcome to the club!!

Kita Semua GILA

Saat pertama saya memilih menjadi seorang psikolog klinis, jujur saya hanya butuh title PSIKOLOG di belakang nama saya. Tau kan….biar sah menandatangani laporan, biar dapat ijin buka praktek pribadi dan juga biar tak terlihat terlalu menganggur selagi karir saya sebagai seorang aktris sedang jalan di tempat! Blak-blakan aja…karir seorang psikolog klinis di Indonesia tak terlalu menjanjikan: hanya ada sekitar 0,1-@% dari populasi yang berada di wilayah abnormal, tambahan lagi calon-calon klien digentarkan oleh stigma:”ke psikolog?emang gue gila?” Apalagi saya masih harus bersaing dengan para mbah dukun, paranormal, ustadz, kyai, pendeta dll…jadi, apa iyah saya perlu punya spesialisasi bidang klinis?

TAPI, saya baru sadar saya tidak teliti mempelajari angka dan statistic abnormalitas. Menurut DSM_IV (buku manual penyakit gila bagi para ilmuwan!), persentase dari penyakit skizofrenia berjumlah 0.5-1,5% dari populasi, gangguan depresi sekitar 5-10%, gangguan panic sekitar 3,5%, PTSD (PostTraumatic Stress Disorder) sekitar 8%, gangguan kecemasan sekitar 3%, gangguan kepribadian sekitar 1-3%, gangguan Obsessive-Compulsive sekitar 2,5%, Somatisasi sekitar 2%...daftarnya terus berlanjut….belum lagi gangguan-gangguan yang biasanya didiagnosa pada masa perkembangan, gangguan berkaitan dengan penyalahgunaan zat, gangguan tidur, penyimpangan seksual, gangguan penyesuaian diri dan gangguan seks dan identitas gender!

Haaahhh….agak terengah-engah rasanya menyebutkannya, itu belum semua loh! Saya tak pandai berhitung, tapi kalau Anda mau menjumlahkan persentasenya...statistik menunjukkan bahwa KITA SEMUA GILA!

Lantas mengapa kita begitu alergi membicarakan kegilaan, penyakit jiwa, kemiringan atau kesedhengan kita? Apa yang membuat Anda dan saya tak bisa bebas membicarakan topik ini dalam pembicaraan sehari-hari kita di warung kopi, saat menjemput anak atau reunian? Ketika seorang tetangga bertanya:”Hai, gimana kabarnya?”, dapatkah kita menjawab dengan ringan bahwa kita baru saja mengalami episode depresi seperti mengatakan bahwa kita baru saja migren?

Mengapa media begitu gencar mencecar Mariah Carey atau Britney Spears yang mengalami mental breakdown (penurunan fungsi mental), menempatkan berita ini sebagai tajuk utama dan membicarakannya dengan “bitchy mode”? Sementara itu Kyle Minoque yang menderita kanker justru memperoleh simpati besar, ketika ia pulih, kita bilang ia seorang survivor dan mengagumi keberaniannya berjuang melawan penyakitnya. Tapi ketika Mariah kembali membangun karir setelah mental breakdown, kita justru memandangnya sebagai mantan orgil yang bisa meledak sewaktu-waktu. Bukankah keduanya sama-sama menderita penyakit…mengapa kita begitu memandang beda penderita penyakit fisik dengan penyakit jiwa?

Setelah bertemu dengan kasus-kasus patologis alias abnormal, ternyata saya cukup paham perasaan dan pikiran mereka, mereka tak datang dari dunia atau planet yang berbeda. Mereka sama seperti kita hanya saja dengan kadar yang berbeda…Lagipula siapa dari kita yang tak pernah merasa depresi (kehilangan minat mengerjakan apapun) ketika menghadapi tantangan hidup yang tak pernah surut? Siapa yang tak pernah merasakan episode mania (terlalu bersemangat sampai tak bisa tidur) selagi kita menunggu hari bahagia atau momen menentukan lainnya? Siapa dari kita yang tak pernah memiliki delusi bahwa semua orang memandang dan membicarakan diri kita ketika ada jerawat merah merona dan matang di ujung hidung kita? Siapa yang tak pernah punya obsesi terhadap mantan pacar yang sekarang bertunangan dengan supermodel? Mungkin kita tak se “sehat mental” seperti yang kita kira. Jadi mari bicarakan dengan terbuka: penyimpangan Anda, ketidakwarasan saya, abnormalitas Anda, gangguan saya, neurosis Anda, psikosis saya…penyakit gila kita!