As a residual control freak, I find it not easy being pregnant….first when I knew I’m having a baby I kinda wish I could repeat the process (of making a baby) all over again and make sure that everything went perfectly: me and hubby in good health, not eating any MSG stuff or coffee and doing it in sterile environment!
But there’s nothing I can do to undo what has happened right…so I just wish and pray that this baby turn well eventually. This is one of the downside of learning psychology especially clinical psychology….you get exposed by all kinds of pathologies! What if my baby developing any kind of deviance or abnormalities like autism or down syndrome?!?! Oh no….please God no…the more I try not to think about it the more I think about it!!!
My madness didn’t stop there….the first 3 months a mother barely can see or feel the baby inside her womb…is she really there? Sometimes even a modern USG check up can’t detect the baby during the first 2 months. I got all the nauseas and the fatigues but still doubt whether I was really carrying a baby or not…you know: seeing is believing right!!!
After the doctor and USG confirmed my pregnancy, a new anxiety starts: how do I know if the baby is alright and growing well? I don’t know whether my hormone changes coz a temporary madness (or dullness) in me but I even thought:”What if I accidentally “push” the baby out while I do my regular pup?” Wow my master degree seemed to be a joke at that time!
My concern and anxieties slowly disappeared when the my tummy grow larger and larger….and then the miracle happened for the first time: I felt the baby moving and kicking inside of me! Wow what an amazing feeling….there’s a new person, a full human being growing inside me! This little person can even interact with me and hubby, she responds when we sing a tune, pray, talk or “kick” her back!
It’s only around 6 months I get to be a mother but I realized that having a child in a world like this really takes this crazy thing called FAITH. You desperately need faith to go through pregnancy….yet alone to raise a child! I still worry day to day if the baby’s healthy and well and I don’t know for sure what she’ll turned out to be but I learn from this great journey that there’s nothing I can do about it except pray and surrender the rest. I still learn to let go my control and anxieties since it does nothing but takes my joy away….I wish that someday I have enough faith to believe that in all things God works for the good of those who love Him!
Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 November 2009
Senin, 24 Agustus 2009
Desire: Wanting what you can’t have!
Baru 5 hari berlalu aku berkeluh kesah pada suamiku, perut kembung, muka jerawatan, pencernaan terganggu, aku positif lagi PMS (pre-menstrual syndrome). PMS-nya sih biasa, tapi yang membuatku mengeluh adalah karena ekspektasiku untuk gak mengalaminya kembali. Dengan pencanangan Program bikin anak sejak 3 bulan lalu, harapanku untuk “ positif” selalu kandas setiap kali aku masih kedatangan tamu bulanan.
Lima hari berlalu dan semua tanda PMS tak kunjung reda, aku dibingungkan karena sang tamu tak kunjung datang…keinginan untuk tes kutunda karena takut kecewa…kecewa kalo baru dites eh taunya besok baru datang! Tujuh hari berlalu, kuberanikan diri untuk tes, sekaligus siap2 kecewa kalau hasilnya tak seperti yang kuharapkan. Sambil sikat gigi kucoba bersikap se-kasual mungkin..tak sampai 5 detik hasil tes bilang aku POSITIF. Kupikir aku akan meloncat bahagia, berlari menghampiri suamiku dan kami berpelukan sambil muter-muter seperti yang sering kulihat di film-film. ..Ternyata aku tak berkutik dihadapan stick kecil tersebut. “Nah lo loh….positif yah? Gimana donk?” tanyaku bloon pada suamiku, bolak balik kami membaca kartu petunjuk pemakaian dan mengamati test pec seraya tak percaya!
Setelah setengah jam nyengar-nyengir bodoh diiringi tawa gugup, aku mulai membayangkan segala hal yang akan berubah dan mungkin tak akan pernah sama lagi. Badanku pasti membengkak dan mungkin tak pernah lagi kembali ke angka yang sama seperti saat ini. Pekerjaan yang telah memberiku rasa mandiri mungkin tak lama lagi bisa kujalani, sampai kapan aku bisa menyupir Jakarta-Tangerang dengan perut yang semakin membuncit? Kopi dan sushi yang kugemari sekarang jadi off limit bagiku. Itu baru selama proses kehamilan….apalagi nanti kalau sikecil sudah hadir dalam keluarga kami, pasti lebih banyak perubahan yang dibawanya: tidur nyenyak dan leyeh-leyeh di akhir pekan mungkin tak akan lagi bisa kami nikmati….wuuaahhh…aku menarik nafas panjang, dadaku terasa sesak penuh ketakutan!
Apa yang tadinya sangat kudamba, kini membuatku takut setengah mati. Sungguh lucu, betapa kita, maksudnya anda dan saya yang mengaku manusia, kita cenderung menginginkan hal-hal yang tidak kita miliki TAPI begitu kita mendapatkannya, kita sekejab jadi ragu apa betul kita mengingininya! Kata orang cinta paling romantic adalah cinta tak kesampaian atau cinta terlarang. Tak dapat bersatu dengan orang yang kita cintai macam cinta Romeo & Juliet rasanya lebih dramatis dan romantis daripada cinta sepasang suami istri yang saling memiliki sepanjang usia.
Pernah kubaca dalam sebuah artikel di O Magazine, seorang professor menyuruh mahasiswanya meneliti dan mengkaji desire secara ilmiah. Ternyata pengalaman dan studi menunjukkan bahwa sifat desire adalah menginginan apa yang tidak kita miliki. Desire cenderung menurun atau menghilang ketika kita telah berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan tersebut. Anda pun pasti pernah mengalaminya, waktu kecil aku iri setengah mati pada sepeda roda 4 milik tetanggaku, warna bannya merah muda khas anak perempuan dengan bel yang berbunyi nyaring. Papa Mama ku saat itu menjanjikannya sebagai hadiah apabila aku naik kelas dengan nilai memuaskan. Aku berusaha setengah mati belajar biar dapat nilai bagus dengan iming-iming sepeda merah muda di benakku. Ketika akhirnya aku mendapatkan sepeda tersebut, hanya 3 minggu aku tenggelam dalam euphoria dan memainkannya dengan sukacita. Tak sampai habis liburan tahun ajaran, sepeda itu sudah mulai sering menganggur dan teronggok saja di pojok garasi. Aku sendiri mulai beralih ingin buku stiker seperti milik seorang teman jemputan.
Gila memang, kalau secara ilmiah saja sifat manusia memang sudah begitu, apa bisa kita salahkan orang yang ingin beristri 2 atau 3? Lah wong manusia tak ada puasnya…mungkin jawabannya bukan pada memiliki apa yang kita inginkan tetapi menginginkan apa yang kita miliki. Jadi kini aku bersyukur dan menikmati saja kehamilanku, kegugupanku, ketakutanku, ketergantunganku pada suami yang makin meningkat dan semuanya….lagipula kalau dipikir-pikir kapan lagi aku bisa leluasa minta dimanja dan dilayani :>
Lima hari berlalu dan semua tanda PMS tak kunjung reda, aku dibingungkan karena sang tamu tak kunjung datang…keinginan untuk tes kutunda karena takut kecewa…kecewa kalo baru dites eh taunya besok baru datang! Tujuh hari berlalu, kuberanikan diri untuk tes, sekaligus siap2 kecewa kalau hasilnya tak seperti yang kuharapkan. Sambil sikat gigi kucoba bersikap se-kasual mungkin..tak sampai 5 detik hasil tes bilang aku POSITIF. Kupikir aku akan meloncat bahagia, berlari menghampiri suamiku dan kami berpelukan sambil muter-muter seperti yang sering kulihat di film-film. ..Ternyata aku tak berkutik dihadapan stick kecil tersebut. “Nah lo loh….positif yah? Gimana donk?” tanyaku bloon pada suamiku, bolak balik kami membaca kartu petunjuk pemakaian dan mengamati test pec seraya tak percaya!
Setelah setengah jam nyengar-nyengir bodoh diiringi tawa gugup, aku mulai membayangkan segala hal yang akan berubah dan mungkin tak akan pernah sama lagi. Badanku pasti membengkak dan mungkin tak pernah lagi kembali ke angka yang sama seperti saat ini. Pekerjaan yang telah memberiku rasa mandiri mungkin tak lama lagi bisa kujalani, sampai kapan aku bisa menyupir Jakarta-Tangerang dengan perut yang semakin membuncit? Kopi dan sushi yang kugemari sekarang jadi off limit bagiku. Itu baru selama proses kehamilan….apalagi nanti kalau sikecil sudah hadir dalam keluarga kami, pasti lebih banyak perubahan yang dibawanya: tidur nyenyak dan leyeh-leyeh di akhir pekan mungkin tak akan lagi bisa kami nikmati….wuuaahhh…aku menarik nafas panjang, dadaku terasa sesak penuh ketakutan!
Apa yang tadinya sangat kudamba, kini membuatku takut setengah mati. Sungguh lucu, betapa kita, maksudnya anda dan saya yang mengaku manusia, kita cenderung menginginkan hal-hal yang tidak kita miliki TAPI begitu kita mendapatkannya, kita sekejab jadi ragu apa betul kita mengingininya! Kata orang cinta paling romantic adalah cinta tak kesampaian atau cinta terlarang. Tak dapat bersatu dengan orang yang kita cintai macam cinta Romeo & Juliet rasanya lebih dramatis dan romantis daripada cinta sepasang suami istri yang saling memiliki sepanjang usia.
Pernah kubaca dalam sebuah artikel di O Magazine, seorang professor menyuruh mahasiswanya meneliti dan mengkaji desire secara ilmiah. Ternyata pengalaman dan studi menunjukkan bahwa sifat desire adalah menginginan apa yang tidak kita miliki. Desire cenderung menurun atau menghilang ketika kita telah berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan tersebut. Anda pun pasti pernah mengalaminya, waktu kecil aku iri setengah mati pada sepeda roda 4 milik tetanggaku, warna bannya merah muda khas anak perempuan dengan bel yang berbunyi nyaring. Papa Mama ku saat itu menjanjikannya sebagai hadiah apabila aku naik kelas dengan nilai memuaskan. Aku berusaha setengah mati belajar biar dapat nilai bagus dengan iming-iming sepeda merah muda di benakku. Ketika akhirnya aku mendapatkan sepeda tersebut, hanya 3 minggu aku tenggelam dalam euphoria dan memainkannya dengan sukacita. Tak sampai habis liburan tahun ajaran, sepeda itu sudah mulai sering menganggur dan teronggok saja di pojok garasi. Aku sendiri mulai beralih ingin buku stiker seperti milik seorang teman jemputan.
Gila memang, kalau secara ilmiah saja sifat manusia memang sudah begitu, apa bisa kita salahkan orang yang ingin beristri 2 atau 3? Lah wong manusia tak ada puasnya…mungkin jawabannya bukan pada memiliki apa yang kita inginkan tetapi menginginkan apa yang kita miliki. Jadi kini aku bersyukur dan menikmati saja kehamilanku, kegugupanku, ketakutanku, ketergantunganku pada suami yang makin meningkat dan semuanya….lagipula kalau dipikir-pikir kapan lagi aku bisa leluasa minta dimanja dan dilayani :>
Langganan:
Postingan (Atom)
